Minggu, 30 Oktober 2022

Sebelum Hujan

Kemarin,

Aku menemukanmu

Dalam dekap kabut yang menggantung

Pekat dan dingin

Aku tak mampu bicara

Hanya menatapmu dalam diam

Pun kau seperti menolak hadirku

Padahal, 

Dalam anganku dulu

Jika kita bertemu

Ada pelangi yang mewarnai

Dan lagu indah mengiringi

Namun nyatanya

Kabut menyelimuti sekelilingmu

Aku tak mampu menyapa

Bahkan untuk sekedar tersenyum

Aku seolah mati rasa

Tiba-tiba kau melangkah

Mendekat dengan pasti ke arahku

Sambil tersenyum kau berkata,

"Pergilah, sebelum hujan turun."

Dan tanpa kusadari, kau telah menjauh

Bersama kabut yang kian menebal

Di sini, sebelum hujan

Kupandangi pergimu

Dengan hati nelangsa

Sebelum hujan,

Namun pipiku, basah




Tanjung Selamat, 15 Juni 2022

Rabu, 05 Februari 2020

MAWAR BIRU BUATMU

Hei kamu...
Iya... kamu
Sang penyuka warna biru
Ketika pernah kutanya padamu
Apa bagusnya biru?
Kau bilang, langit biru
Artinya bukan abu abu
Aku suka, katamu
Dan aku,
Dalam bingung mendengarmu

Selasa, 04 Februari 2020

TANGKAHAN, OBJEK WISATA YANG MENJANJIKAN


           Kabupaten Langkat merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Sumatera Utara, memiliki luas 6.772 km2 dan terdiri dari 23 kecamatan. Kabupaten yang beribukota di Stabat ini berada tidak jauh dari Kota Medan. Kabupaten Langkat termasuk salah satu kabupaten yang wilayahnya sebagian besar digunakan untuk kawasan hutan lindung dan kawasan lahan budidaya.
Kawasan hutan lindung yang terbentang di Kabupaten ini adalah Taman Nasional Gunung Leuser yang menyimpan sejuta pesona, satu di antaranya adalah kawasan wisata Tangkahan yang terletak di Desa Namo Sialang, Kecamatan Batang Serangan. Kawasan yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser ini merupakan salah satu tempat ekowisata yang menawarkan pengalaman sekaligus sensasi ketika menjelajahinya.

Senin, 06 Januari 2020

MUKA DUA


Tentu saja,
Kau akan terus membersamainya
Meski kau tahu
Betapa dia tak seperti dia
Yang sesungguhnya

Tentu saja,
Tak sedikit pun celamu padanya
Saat keluh kesah bak madu
Membius sadarmu

Tentu saja,
Tak satu pun sanggahmu untuknya
Saat ratusan kata berbisa
Keluar dari mulutnya

Tentu saja,
Tak jarang air mata dusta
Turut kau berikan padanya
Saat hidupnya yang katanya penuh drama
Dikisahkan padamu

Tentu saja,
Tak ada wajah merah menahan amarah
Meski tiap kali kau temui salah
Pada laku dan sikapnya

Tentu saja,
Senyum manis selalu kau suguhkan
Meski hatimu sendiri mendustakannya

Duhai...
Bilakah nurani merasa?
Jika pendusta kau amini
Malu pun tak lagi kau miliki
Dan, tentu saja
Karena hidupmu sudah dipenuhi bisa
Kau terperangkap dalam penjaramu sendiri
Hingga sulit bagimu untuk pergi
Jangan salahkan aku, jika aku menyebutmu :
Muka Dua!




*28 Okt 2018

Minggu, 22 Desember 2019

DAWAI RASA

Kucoba merangkai nada yang mungkin sama
Dengan nada yang kau punya.
Tak juga kumampu ciptakan lagu itu
Karena dawai yang kupetik ternyata kehilangan
Satu senarnya yg tercecer entah di mana
....
Telah kulewatkan satu dasawarsa untuk menghilangkan
Lukisan dirimu yang tetap terjaga dalam pigura hatiku
Telah kulewatkan satu dasawarsa untuk menghapus semua memori tentangmu yang kuat menancap dalam ingatanku.
Bahkan telah kulewatkan satu dasawarsa untuk melupakan senyummu. Tapi rasa itu tetap singgah, kian mengakar.
Tapi....
Mengapa begitu sulit?
Karena aku jatuh cinta di masa yg tak lagi sama,
Karena aku merindu di waktu yg tak lagi sama,
Tapi denganmu yang sama.
Dan...
Rinduku selalu datang dan pergi layaknya buih. Seolah mampu memecah karang bahkan melampaui tebing.
Namun nyatanya...
Kembali menghempas pantai
Menyisakan hati yg membasah karena tak mampu mencipta dawai rasa yg sempurna.


*Oktober 2014

TENTANG RINDU

Ya, ini tentang rindu
Yang tetap ada dan tak hendak kutiadakan
Yang mengakar kuat dan tak ingin kumatikan
Yang tersimpan rapi, berbingkai nelangsa
Berwarna ungu, biru, dan merah jambu
Ini tentang rindu
Yang kadang mengubah tawaku menjadi tangis pilu
Yang membawa tidurku menjelma mimpi
Hingga tak hendak kusudahi
Ini memang tentang rindu
Yang menjelma dalam syair tak bermakna
Merangkai kata dalam rindu yang seolah tak berujung
Ya....
Tak berujung....
Ini cuma tentang rindu
Yang bertahun-tahun lalu selalu berhasil kusembunyikan
Tak hilang, tak akan kuhilangkan
Karena rinduku, abadi
Melebur dalam tarikan nafasku
Seirama dengan denyut nadiku
Menjadi lagu indah pada detak jantungku
Ya, ini cuma tentang rindu
Yang tak dapat kupahami kegelisahannya
Yang tak bisa kumaknai hanya dengan kata-kata sederhana
Karena rinduku penuh warna
Ini tentang rindu
Yang kupunya
Yang tetap ada
Ya, ini tentang rindu

*Januari 2016

Kamis, 19 Desember 2019

RINDU TAK BERUPA

Jika rinduku berupa kata
Mungkin sudah banyak cerita yang tercipta
Mengisahkan birunya rindu yang mendera
Dalam tiap tarikan nafas yang kuhela

Jika rinduku berupa matematika
Sudah jutaan angka yang kuguna
Untuk menghitung banyaknya rindu
Yang memenuhi ruang pikirku

Jika rinduku berupa zat kimia
Entah berapa senyawa yang tercipta
Kuaduk, kucampur untuk menuntaskan rasa
Yang menggayuti ruang hampa

Jika rinduku berupa warna
Pasti lukisan terindah sudah menjelma
Mengurai rindu dalam dada
Yang warnanya serasi bak bianglala

Sayang,
Rinduku tak berupa
Tak mampu kuwujud dalam apa
Hanya sunyi yang senantiasa ada



P. Tualang, 19 Des 2019

Sebelum Hujan

Kemarin, Aku menemukanmu Dalam dekap kabut yang menggantung Pekat dan dingin Aku tak mampu bicara Hanya menatapmu dalam diam Pun kau seperti...